Memasukki tahun 2026, bagaimana perasaan kita? Melihat kondisi dunia saat ini, paling tidak ada bencana Sumatera dan bencana di Hong Kong yang mempengaruhi suasana hati kita dalam memasukkinya.
Yeremia
29:1
1 Beginilah bunyi surat yang dikirim oleh nabi Yeremia dari
Yerusalem kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada
nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan
oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel.
10 Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh
puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati
janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.
11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada
pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai
sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan
yang penuh harapan.
Bagian ini ditulis oleh Yeremia kepada tua-tua di antara
orang buangan, kepada imam-imam, nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah
diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel. Ayat 1
ini mendaftarkan siapa-siapa saja yang menerima surat ini, lokasi dan keadaan
mereka.
Penerima surat ini adalah para pemimpin Israel. Para
pemimpin ini sedang di dalam pembuangan, di negeri penjajah. Status mereka
turun dari orang bebas menjadi orang buangan. Dari Yerusalem, kota rohani
mereka ke Babel, kota orang kafir. Demikian juga keadaan seluruh rakyat yang
juga menerima surat ini. Kondisi mereka dalam keadaan malu, sulit untuk
menerima kenyataan, dan mereka harus mengalami masa yang tidak pasti, hidup
mereka bergantung pada kemurahan hati dari penjajah mereka. Sampai kapan dan
bagaimana mereka harus hidup, sangatlah membingungkan. Itu sebabnya, Yeremia
dalam ayat 5-6 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu
nikmati hasilnya;
6 ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan
perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi
anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar
di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!
Yeremia meminta mereka untuk membangun hidup mereka seperti
biasa di tanah buangan. Karena masih 70 tahun lagi Allah baru akan perhatikan
mereka. Mengapa harus begitu lama?
11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada
pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai
sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan
yang penuh harapan.
Sekali pun dalam pandangan orang Israel, 70 tahun waktu yang
sangat lama. Mengapa kalau Allah mengasihi umat Israel, Allah tidak langsung
saja bebaskan bangsa Israel?
1.
Allah mengatakan bahwa Dia
tahu, Dia faham, Dia yang menguasai masa dan waktu, dan Dia punya rancangan
untuk bangsa Israel. Jadi, waktu pembuangan 70 tahun bukanlah waktu yang akan
berlalu dengan sia-sia. 70 tahun di pembuangan ada dalam perhitungan Allah. Allah
telah memperhitungkan dan memutuskan dalam kemahatahuanNya bahwa 70 tahun itu
perlu ada dalam sejarah bangsa Israel.
Jadi, di sini kita lihat bahwa umat Israel
ada dalam pikiranNya, ada dalam rencanaNya. Allah memperhatikan bangsa ini
bukan secara umum sebagai satu bangsa. Allah memperhatikan mereka bahkan secara
pribadi. “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku
menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau
memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” Yesaya 46:4
2.
Rancangan damai sejahtera
bukan rancangan kecelakaan. Ini merupakan jaminan. Jaminan bahwa rancanganNya
adalah rancangan damai sejahtera. Rancangan Shalom. Allah tidak pernah
merencanakan kecelakaan bagi umatNya. Tetapi shalom dari Allah berbeda dengan
shalom dari dunia, atau dari nabi-nabi palsu pada masa itu. Pada masa itu,
nabi-nabi palsu juga memberitakan keadaan yang damai.
“Pertama, nabi Hananya (Yer. 28). Nabi
Hananya bernubuat bahwa dalam waktu dua tahun, Yahweh akan mengembalikan
perkakas Bait Suci, juga raja Yekhonya serta orang2 buangan lainnya, karena
Yahweh akan mematahkan kuk raja Babilon, demikian nubuat palsu ini. Sementara
itu, Yeremia bernubuat bahwa Yahweh telah menetapkan 70 tahun bagi Babel, dan
karenanya ia mengirim surat kepada orang buangan itu agar mereka mengusahakan
kesejahteraan kota kemana mereka dibuang. Nabi Hananya telah membuat penduduk
Yerusalem percaya kepada dusta bahwa Yahweh tidak akan mendatangkan pedang,
kelaparan dan wabah penyakit. Namun, seperti kita baca pada pasal ini, ternyata
nabi Hananya bernubuat palsu, dan sebagai hukuman Tuhan atasnya, ia mati pada
tahun itu juga.
Kedua, nabi Ahab anak Kolaya dan nabi Zedekia anak Maaseya, yang bernubuat
palsu (Yer. 29:21). Memang nubuat kedua nabi ini tidak dituliskan, namun kita
dapat mengetahui bahwa mereka bernubuat tentang damai sejahtera dalam arti
tidak ada pedang, malapetaka dan wabah penyakit, seperti Yeremia 14 yang
telah kita kutip diatas. Sebagai hukuman Tuhan bagi kedua nabi ini, mereka
diserahkan kedalam tangan raja Nebukadnesar.
Ketiga, nabi Semaya (Yer. 29:24-32). Nabi Semaya ini telah berada di Babel, dan
ia menulis surat2 atas namanya sendiri, dan mengatakan kepada Imam Zefanya
serta imam2 lainnya di Yerusalem, bahwa Yahweh telah mengangkat mereka ini
menggantikan imam Yoyada serta menganjurkan agar menangkap nabi Yeremia.
Alasan nabi Semaya ini karena Yeremia menubuatkan penawanan yang lama di Babel
(70 tahun).
Keempat, nabi Pashur (Yer. 20-1-6). Nabi Pashur ini memukul dan memasung
nabi Yeremia, karena nabi Yeremia menubuatkan pembuangan kerajaan Yehuda ke
Babel. Tuhan menghukum nabi Pashur ini dengan membuangnya ke Babel (ayat
6).
Masih banyak lagi nabi2 palsu yang tidak disebut namanya didalam kitab Yeremia
ini. Namun, nabi2 palsu ini memiliki kesamaan dalam hal nubuat mereka, yaitu
mereka bernubuat bahwa kerajaan Yehuda tidak akan mengalami pedang, malapetaka,
dan wabah penyakit, walaupun kita ketahui bahwa Yehuda telah melakukan banyak
penyembahan berhala dan dosa2 lainnya.
Sementara itu, nabi Yeremia bernubuat
bahwa kerajaan Yehuda akan dibuang ke Babel sejangka waktu lamanya (70 tahun)
sebagai disiplin Tuhan karena dosa2nya. Nabi Yeremia juga menubuatkan rancangan
damai sejahtera kepada orang2 buangan, tetapi suatu damai sejahtera setelah
mengalami disiplin Tuhan.”
Di dalam situasi yang sangat kacau tersebut,
banyak nubuat yang disampaikan. Persis seperti masa kini. Orang berlomba-lomba
meramalkan setiap situasi. Apa pun keadaannya, setiap orang percaya harus
percaya bahwa rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera. Masuk dalam
damai sejahtera Allah tidak berarti bahwa semua akan baik-baik saja. Allah
tidak pernah memanjakan anak-anakNya. Yang Allah pedulikan bukan saja
kesejahteraan fisik, tetapi kesejahteraan umat Tuhan secara keseluruhan, baik
fisik, karakter, mental dll. Itu sebabnya shalom harus diberikan dalam kerangka
ini. Itu sebabnya perlu 70 tahun pendisiplinan sebelum tiba waktunya umat Allah
siap menerima berkat dari Dia. Semakin bandel, semakin perlu disiplin, semakin
lama untuk mengalami kelonggaran dari pendisiplinan itu.
Inilah damai sejahtera yang sesungguhnya. Sekali
pun dalam masa disiplin, Allah tidak pernah tinggalkan mereka. Inilah damai
sejahtera yang sesungguhnya.
3.
Allah mau memberikan hari
depan yang penuh harapan.
Allah memegang masa depan. Sekali pun, saat
ini bangsa Israel dalam pembuangan, dalam Allah ada harapan. Karena, Allah ada
di mana-mana. Allah ada di Yerusalem, Allah ada di Babel. Allah ada di masa
kegemilangan orang Israel, Allah juga ada di masa kekelaman orang Israel. Jadi,
sepanjang ada Allah, ada harapan.
Oleh sebab itu, dalam bagian selanjutnya
Allah mengatakan bahwa Dia akan mendengarkan doa umatNya, Dia bersedia ditemui
oleh umatNya dan Dia akan memulihkan keadaan mereka (12-14). Namun, untuk
orang-orang yang melawanNya, Allah akan mengirim kecelakaan kepada mereka. (17)
Jadi, di dalam Tuhan ada hari depan yang
penuh harapan, karena di dalam Tuhan ada penyertaanNya.
Jadi,
apa yang bisa kita pelajari dari bagian ini untuk menuntun kita masuk ke dalam
tahun 2026? Seperti apa yang dialami oleh orang Israel, kita juga tidak tahu
bagaimana tahun 2026 yang akan kita masukki. Oleh sebab itu, berdasarkan Firman
Tuhan ini kita harus:
1.
Percaya bahwa hidup kita
ada dalam rancanganNya. Kita ada dalam pikiranNya. Dan, Dia berkuasa menjadikan
segala sesuatu terjadi sesuai kehendakNya.
2.
Rancangan Tuhan adalah
rancangan damai sejahtera untuk kita, bukan rancangan kecelakaan. Walau pun
mungkin kita merasa lama sekali, berat sekali, malu sekali dll. Mungkin ada
disiplin yang sedang Allah kerjakan di dalam hidup kita. Disiplin itu bisa
merupakan latihan ketaatan untuk kita, kesempatan untuk bertumbuh bagi kita,
namun disiplin itu juga bisa merupakan masa pengujian untuk kita. Siapa kita,
apakah kita sungguh-sungguh ikut Dia atau tidak, itu semua terlihat di masa
disiplin ini. Makin bandel kita, makin lama masa disiplin kita. Karena, Allah mau
damai sejahtera terjadi di seluruh aspek kehidupan kita. Itulah kasih Allah.
3.
Bersama Allah hari depan
kita penuh harapan.
Ini adalah janji Allah yang bisa kita
pegang memasukki tahun 2026. Selama masa penantian Dia akan mendengarkan kita
dan Dia bersedia ditemui oleh kita. Dia menemani kita selalu, baik ketika kita
mengalami masalah atau pun ketika kita dalam sukacita. “….supaya di tempat di
mana Aku berada, kamu pun berada.Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke
situ." Yohanes 14:3-4
Karena itu, kita tetap hidup sesuai dengan
himbauan dari nabi Yeremia dalam ayat 5-7.
“Dirikanlah rumah untuk kamu diami;
buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;
ambillah isteri untuk memperanakkan anak
laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan
carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki
dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Usahakanlah
kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada
TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”
Kiranya
Firman Tuhan ini menguatkan kita masuk ke dalam tahun 2026